Ardian Syaf, Pembuat Komik Langganan Perusahaan Amerika
Batman Made in Tulungagung
Tak sedikit kesuksesan berawal dari hobi. Itu pula yang terjadi pada Ardian Syaf. Berkat hobi dan ketelatenan menggambar, pria berusia 29 tahun itu sukses dikontrak perusahaan komik Amerika, DC Comics.
---
HAMPIR tujuh jam sehari, pria yang tinggal di Desa Tenggur, Kecamatan Rejotangan, Tulungagung, itu menghabiskan waktu di kamar berukuran 4 x 2 meter. Dia berkonsentrasi menciptakan berbagai gambar komik. Dengan pensil berbagai ukuran dan penghapus di atas meja, sarjana desain komunikasi visual Universitas Negeri Malang (UNM) 2004 itu membuat sketsa tokoh superhero dari Gotham City, Batman.
Dengan telaten, suami Evi Retnowati itu menggambar dan mengarsir bagian wajah dan tubuh tokoh manusia kelelawar tersebut. ''Rencananya, desain ini untuk salah satu edisi komik yang bakal dirilis bulan depan oleh DC Comics Amerika,'' ujar Ardian.
Tak jauh dari meja kerjanya terdapat dua lemari. Ketika dibuka, di dalamnya penuh tumpukan kertas. Seluruhnya adalah kumpulan karyanya. ''Rencananya, gambar-gambar itu juga saya kirimkan ke perusahaan komik di Amerika,'' imbuhnya.
Ya, Ardian kini boleh dikata sudah menuai hasil jerih payahnya yang ditanam sejak dini. Berkat kegemarannya coret-coret sejak kecil, serta ketelatenannya belajar mendesain komik hingga sarjana, job terus mengalir dari mancanegara. Karya-karya Ardian sudah menjadi langganan perusahaan komik papan atas di Amerika, DC Comics. Perusahaan di bawah payung Warner Bros Entertainment itu kondang dengan karya superhero, mulai Superman, Batman, hingga Wonder Woman.
Saat ini dia sudah menandatangani kontrak eksklusif selama dua tahun dengan perusahaan bermarkas di New York tersebut. Ardian mengerjakan desain gambar cerita novel berjudul Dresden Files karya Jimi Butcher yang saat ini populer ditayangkan layar kaca Negeri Paman Sam. Dalam komik setebal 24 halaman itu, dia diminta untuk mengerjakan desain gambar hingga beberapa episode. Komik itu mengisahkan petualangan seorang penyihir muda yang berada di zaman modern bernama Harry Dresden untuk melawan makhluk-makhluk asing yang ingin mengacaukan dunia. ''Alhamdulillah, karya-karyaku akhirnya diterima mereka. Bahkan, katanya saat ini sedang digemari di sana,'' ucapnya.
Namun, semua kesuksesan itu diraih dengan perjuangan. Beberapa kali Ardian menawarkan karya-karyanya di beberapa media cetak, namun tidak pernah membuahkan hasil. Bahkan, dia sempat dimarahi orang tua. Tapi, dia tak patah arang. Malah, dia lebih bersemangat menggambar komik. Talenta yang dimiliki sejak kecil itu mulai menampakkan hasil pada pertengahan 2005. Yakni, ketika dia iseng-iseng mencari informasi di internet serta kabar dari beberapa teman.
Dia mencoba memasang galeri di situs internet untuk menawarkan desain komik di perusahaan luar negeri. ''Saat kami tawarkan desain gambar, awalnya mereka tidak tertarik. Namun, selang beberapa waktu kemudian mereka tertarik. Meski tanpa digaji,'' terangnya. Seiring jam terbang dan hasil karyanya yang semakin berkualitas, pada pertengahan 2007 karyanya diterima DC Comics. Honornya sekitar USD 50 (sekitar Rp 480 ribu) per halaman. Komik yang dia garap berjudul Take a Chance. ''Meski terbit belakangan, sejak saat itu semangatku membuat komik semakin terpacu,'' ungkapnya.
Dari situ karya-karyanya semakin teruji. Dia terus mendapatkan tawaran untuk menyelesaikan gambar beberapa cerita komik. Di antaranya, Batman and Superman, Justice League of America, dan beberapa judul yang lain. Tentunya, honornya semakin besar. ''Saya merasa bersyukur. Saat ini satu lembar mendapat honor USD 235 (sekitar Rp 2,25 juta). Bahkan, kertas gambar dikirim langsung dari sana (Amerika),'' katanya. (mas tricahyono/oki)
(di-co-pas dari:
[link]Artikel lainnya:
-
[link]
age= 12&date=20090927
-
[link] nid=92228
-
[link] nid=92227
Sukses mas DC!!!

Mudah2an besok saya nyusul!
